Setiap pagi akan berangkat
kerja, saya seringkali merasa bingung harus pakai baju yang mana. Bahkan ini
saya pikirkan sejak bangun tidur. Di dalam kamar mandi pun sambil mencoba
mengingat-ingat baju dalam lemari ada apa saja. Selesai mandi saya diam terpaku
berdiri di depan lemari yang terbuka, memandang dari atas sampai bawah, dari
kiri sampai kanan, meliihat-lihat baju mana yang akan saya pakai. Sungguh ini
suatu kondisi tidak nyaman bagi saya. Baju ada selemari tapi merasa nggak punya
baju.
Idul
Adha sudah semakin dekat, apakah kamu sudah siap makan sate? Wkwk… bukan bukan,
maksud saya apakah hewan qurban kita sudah siap? Atau jangan-jangan cuma qurban
perasaan?
Laju
pertumbuhan penduduk sepertinya tidak sebanding dengan pertumbuhan ruang. Banyaknya
kendaraan tidak sebanding dengan lebarnya jalan yang bisa dilewati. Otomatis kemacetan
terjadi saban hari. Apalagi pada jam berangkat dan pulang kerja. Lalu lintas padat
merayap dan membuat emosi setiap orang terguncang (wetseh). Kalau sudah tidak sabaran, suara klakson menggelegar
memekakkan telinga.semakin mengguncang emosi bagi yang tidak tahan.
Sudah
menjadi sifat manusia ingin terlihat indah dan ingin diperhatikan orang lain.
Tak heran bila berbagai upaya dilakukan untuk menjadikan tubuh dan wajah
semakin indah. Berbagai kosmetik pun semakin banyak macamnya. Dari ujung rambut
sampai ujung kaki semua ada. Biaya perawatan mahal ke salon pun rela
dikeluarkan oleh beberapa orang demi memuaskan keinginannya.
Pernah
mengagumi seseorang? Sekedar kagum atau suka, apalah namanya. entah cantiknya,
tampannya, cerdasnya, aktifnya dan nya
nya nya yang lainnya. Yang pasti saat kamu bertemu dengannya kamu merasa
senang? Apalagi bertemunya diwaktu yang tak terduga. Rasanya itu bertemunya sekilasss, tapi perasaannya
berkelasss. Kamu pasti merasa itu adalah sebuah rezeki yang tak terduga,
haha... tapi jangan salah, pertemuan itu juga bisa menjadi sebuah ujian. Maka kamu
harus pandai-pandai mensiasatinya.
Mengapa sebagai rezeki? Karena hal
itu menyenangkan hati. Hehe.... disaat kamu ingin bertemu dengannya, biasanya
nggak bakal ketemu, tapi terkadang sosok itu muncul disaat kamu sedang tidak
berharap apa-apa. Nah....rezeki banget kan ya...
Dan mengapa sebagai ujian? Dalam Islam
saja sudah jelas bahwa kita harus menundukkan pandangan terhadap lawan jenis. Ah
saya tidak mau membahas hal ini dari sisi agama terlalu jauh, karena masih
banyak ustadz dan ustadzah yang lebih mumpuni untuk menjelaskannya. Tapi saya
akan membahas ini dari sudut psikologi saja (padahal saya juga bukan psikolog hehe piiiisss...). saya ulangi,
mengapa sebuah pertemuan dengan orang yang kamu sukai bisa sebagai ujian? karena
pada saat itu kamu sangat dilarang berharap memilikinya, kamu sangat dilarang memikirkan
hal-hal yang tidak penting, karena masih banyak yang lebih penting yaitu belajar, pada saat itu kamu sangat
dilarang berangan jauh tentangnya, pada saat itu kamu sangat dilarang ke-GR-an
dengan sapa manisnya, dan banyak larangan-larangan lagi yang menekan
perasaanmu. Pada saat itu kamu cukup membalas sapaannya dengan senyum. Kemudian,
LUPAKAN!!!
Nah, kamu butuh trik untuk mengatasi
itu semua. Dan itu perlu dibangun dengan kokoh dari akar-akar pikiran dan
perasaanmu. Kamu harus pandai
mengendalikan perasaanmu, jangan sampai perasaanmu yang mengendalikanmu. Mungkin
kamu perlu menancapkan beberapa hal berikut:
Ini
yang paling sedehana:
Ah sudahlah,
dia lho biasa aja ketemu aku, masak aku luar biasa...
Atau
kamu berhusnudzan terhadapnya:
walah dia lho
anak baik, anak rajin, pasti mikir sekolah dan sekolah, sungkan ah.
Atau
ini yang sedikit suudzan tapi baik untuk kesehatan, haha:
Dia lho nggak
suka tipe anak seperti aku, nggak usah berharap deh ya...
Yang
berikut ini juga boleh ditancapkan ke jidad biar nggak kelewat berharap:
Ah dia sudah
calonnya orang, percuma berangan-angan.
Masih
banyak cara lain untuk menekan perasaanmu, dan mana yang topcer hanya kamu yang lebih tahu.
Halo para
silent reader yang tersesat di blog saya hehe…. (yang menyengaja mampir, saya
ucapkan terima kasih saja lah :D )
Kabarnya saya
lagi ingin nulis, tapi bingung apa yang mau ditulis, bukan karena nggak punya
topic, justru topic lagi buanyak banget sampek padet, akhirnya untuk
mengalirkan satu-satu ke blog sederhana ini jadi susah. Haha duh alibi saja
ya saya ini….
Ya sudah, saya
ingin bahas “nulis” saja. Nulis, iya nulis :3 memang saya bukan penulis,
bercita-cita jadi penulis juga nggak pernah. Saya hanya biasa nulis.
Kalau kamu nyaman
nulis di buku diary, ya nulislah!
Kalau kamu
nyaman nulis di balik buku mata pelajaranmu, ya nulislah!
Kalau kamu
hobi nulis di blog, ya nulislah!
Atau bahkan
kamu nyaman nulis di tembok kamar, nulislah! Asal bapak kamu tidak marah karena
tembok yang dicoret-coret, hehehe….
Tulislah apa
yang ingin kamu tulis, dimana saja kamu suka. Hmmmmm…Tunggu tunggu, baca
ini “asal tidak melanggar aturan-aturan yaaa….”.
Oh ya, kalau
nulis di tempat yang bisa diakses banyak orang, seperti blog, tweeter,
facebook, dan media social lainnya, harus lebih berhati-hati. Tips-nya sih
gampang, kalau emosi lagi nggak menentu, mending nggak usah nulis di
tempat-tempat itu, bahaya, pakek banget. Seperti yang telah saya alami beberapa
minggu lalu hihihihi…... Emosi dan perasaan lagi tidak menentu, tapi saya malah
nulis di tempat-tempat itu. Ya efeknya jelas tidak baiklah, pasti isinya juga kadang jadi
nggak penting, nggak ada manfaatnya blas. akhirnya saya hapus deh dari permukaan, tapi tetap ada di buku diary.hehe... Semoga tidak terulang lagi
deh. Aamiin…. :)
manfaat nulis
itu banyak, kamu bisa merekam kejadian yang ingin kamu kenang. Juga bisa
melegakan hati sih menurutku. Terus kalau suatu saat nanti kamu baca kembali,
kamu bisa senyum-senyum sendiri. Senyumnya itu karena menertawakan
diri-sendiri. Hahaha… kok bisa-bisanya
saya melakukan itu bla bla bla….macem-macem pasti rasanya.
apa kabar teman-teman yang sedang mencari ilmu di perantauan?
dan gimana nih kabar dompet kalian? Hihihi…
hampir 99% teman-teman bahkan yang sudah usia kuliah masih menengadahkan
tangan minta jatah ke orang tua, hayooo ngaku saja, nggak usah malu, saya juga
begitu lho hiks hiks…. L
meskipun kalian belum mampu mengisi dompet kalian sendiri, yah
seenggaknya uang beasiswa dari orangtua nggak dihabis-habisin seenaknya.
Kali ini saya akan membeberkan fakta lengkap dengan buktinya.
Beginilah keadaan dompet di awal minggu atau awal bulan (saat gajian
dari orangtua tiba), masih ada berlembar-lembar uang di dompet, nggak
tanggung-tanggung, lembarannya pun nominal besar.
Tapiiii….menangislah kau saat dompet sudah sepi penghuninya,
biasanya ini terjadi karena beberapa factor, yaaa bisa factor waktu (memang
sudah waktunya habis), tapi kalau x-faktor yang terjadi ini yang bikin sedih,
uang belum buat bayar itu, belum buat beli itu, belum dimasukin itu, tapi kok
tahu tahu sudah lenyap.
Mungkin kalian bisa mencoba cara yang biasanya saya pakai agar uang
kalian terkontrol sesuai rencana, tidak kabur begitu saja dari dompet kalian.
Caranya, coba bagilah uang kalian, dan jangan lupa dikasih label berdasarkan
kebutuhan. Contoh label: uang beli buku, uang nabung, uang bayar kemeja, dan
yang kadang-kadang dititipi uang temen jangan lupa untuk memisahkannya, karena
kalau kepakek tanpa sadar ya bingung di akhir. Kasih saja label uangnya temen.
Setelah
itu akan lebih baik jika uang yang sudah dilabeli tersebut terpisah dari uang
netral, itu akan lebih sulit membuat uang kabur . selamat mencoba...