Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

Thursday, 12 March 2020

Untuk Ibu-Ibu yang Sholat Jamaah Tapi Tidak Mau Merapatkan Shaf: Sholat Sendiri Saja di Rumah

Thursday, March 12, 2020 0 Comments
Sumber Gambar : https://muslimobsession.com/


Sholat berjama’ah memang lebih utama daripada sholat sendirian. Pahalanya 27 derajat.

صَلاَةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلاَةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً


Shalat jamaah lebih baik 27 derajat dibanding shalat sendirian.” (HR. Bukhari)

Selain mendapat pahala yang lebih banyak, sholat berjamaah di masjid mempunyai banyak keutamaan, diantaranya: setiap kaki melangkah akan menghapus dosa, dan langkah selanjutnya akan mendapat pahala. Menurut saya, sholat berjamaah di masjid juga bisa menjadi media bersosialisasi dengan warga sekitar. Tapi ya jangan gosip juga abis salam. Ibu-ibu nih biasanya hihihi…

Saat sudah kuliah dan kerja merantau di Surabaya, dan pulang ke Lamongan sekitar sebulan sekali, saya niat sholat berjamaah di masjid deket rumah untuk bersosialisasi. Biar warga kampung nggak lupa punya tetangga namanya Dwi :D Di masjid itulah kesempatan saya bertemu dengan tetangga, biasanya waktu buyaran sholat ada tetangga yang nyapa, “Eh…Mbak Dwi di rumah. Pulang kapan, Mbak? Libur ta?”, dan pertanyaan basa-basi lainnya, yang penting bukan basa-basi busuk ya :D

Dari beberapa masjid yang pernah saya gunakan sholat jamaah, ada satu masjid yang membuat saya sangat terkesan. Yaitu Masjid Al-Falah Surabaya. Di masjid Al-Falah ada ‘polisi’nya. Mereka adalah ibu-ibu yang mengatur jamaah agar disiplin dan rapi di dalam masjid. Seperti memperingatkan untuk tidak sholat di depan lemari mukenah, karena ini akan menyulitkan jamaah lain yang ingin mengambil mukenah. Melarang sholat di bagian yang akan dibuat lalu lalang orang, dan mengatur shaf para jamaah ketika iqomat.

Ketika iqomat berkumandang, para ‘polisi’ ini mulai beraksi. Jika barisan depan masih renggang atau kosong  maka ibu-ibu ini menyuruh jamaah untuk mengisinya. Jika shaf kurang rapat, disuruh lebih rapat. Jadi, ibu-ibu ‘polisi’ masjid ini akan takbir belakangan setelah mengatur shaf jamaah. Jadi, saran saya kalau kamu sholat jamaah di masjid Al-Falah dan membawa sajadah, jangan digelar dulu kalau tidak mau sajadah kamu ternyata terpisah dari kamu :D Bawa dulu,karena nanti pasti akan geser-geser sampai rapat, kalau sudah rapat, baru deh gelar. Gituu hehehe…

Naaah…saya ini kesal sekali sama ibu-ibu yang membawa sajadah sangat lebar dan tidak mau merapatkan shaf. Harus berdiri di atas sajadahnya. Delalah jamaah kanan kirinya juga sama membawa sajadah lebar. Duh, itu shaf jadi renggang banget, bisa bayangin kan? Saya mepet ke kanan, yang kiri longgar. Mepet ke kiri, eh yang kanan longgar. Saya narik ibu sebelah saya biar mepet ke saya, eh gak mau dia (padahal aku gak bauk lhoo L )

Bu….kalau nggak mau merapatkan shaf, sholat sendiri saja di rumah…huhu…Padahal kalau sholat berjamaah tuh harus rapat shafnya, biar nggak ada celah setan diantaranya.



Sekian curhatan dari salah satu jamaah perempuan yang sajadahnya lebar-lebar.

Saturday, 1 June 2019

Model Dompet Sesuai Kebutuhan Wanita Sepertiku

Saturday, June 01, 2019 0 Comments
Tiap orang sepertinya tidak bisa lepas dari dompet. Hampir semua orang membawanya kemana-mana. Karena fungsinya memang menyimpan barang yang identik untuk dibawa kapan saja, misal uang, KTP, ATM, STNK, hingga kertas-kertas bon.

Model dompet pun beragam. Terutama dompet wanita. Dari yang bentuknya kecil atau besar, bertali atau tanpa tali, dan polos atau motif.

Lalu, dompet seperti apa yang cocok untuk wanita (seperti saya)? Yap, maaf postingan ini sangat subyektif yaa... Jadi postingan ini membahas model dompet yang cocok untuk wanita khususnya buat saya hehe

Sebelumnya, saya akan perkenalkan diri saya dulu. Saya ini tipe orang yang selalu pakai rok atau gamis. Sedangkan rok dan gamis jarang yang ada sakunya tidak seperti celana jeans. Jadi kalau nggak bawa dompet ya nggak bisa bawa apa-apa seperti uang atau hp.

Baik, saya akan mengulas model dompet yang kayak gimana sih yang cocok buat saya? (Padahal nggak ada yang nanyak wkwk)

1. Ukurannya sedang
Saya suka dompet yang ukurannya sedang. Minimal, hp bisa masuk. Ya, hp harus bisa masuk dompet saya. Biar ketika pergi untuk urusan singkat seperti ke warung atau swalayan, saya cukup membawa dompet saja. Tahu sendiri kan, hidup tanpa hp itu bagaikan kembali ke zaman purba. Hoho

Dan juga tidak terlalu besar. Setidaknya tidak terlalu makan tempat untuk dimasukkan ke dalam tas utama.

Tas utama? Itu lhoo kalau kita kerja atau kuliah kan biasanya bawa tas. Yaa tas normal pada umumnya itu. Jadi misal ketika kerja ada keperluan keluar kantor dan tidak perlu membawa barang banyak-banyak, saya cukup membawa dompet saya. Tas utama ditinggal di kantor saja. Biar tidak berat.

2. Bertali
Saya suka dompet yang ada talinya, lebih-lebih yang talinya bisa dilepas pasang. Karena saya adalah anak motor, jadi kemana-mana naik motor. kalau mau pergi ke warung atau swalayan saja saya cukup membawa dompet tanpa harus membawa tas. Dan juga seperti contoh kasus di poin pertama, dompetnya tinggal 'dicangklong' aja, kan ada talinya. Jadi bisa gerak bebas.

3. Pantes dipakai main atau bahkan kondangan
Saya menganut prinsip hidup minimalis (Berusaha sih, kayak yang dikampanyekan Marie Kondo), jadi nggak mau punya barang banyak-banyak. Bakal ruwet sekali hidup ini kalau dihabiskan untuk merawat banyak barang di rumah. Jadi, saya hanya punya satu dompet. Tidak akan beli dompet baru sebelum dompet yang lama rusak. Lagian sepertinya bakal ribet kalau sering gonta-ganti tas/dompet. Ribet mindahin isinya.

Jadi, saya pilih dompet yang modelnya pertengahan, tidak terlalu 'rembes' dan tidak terlalu mewah. Kan nggak lucu kalau saya pergi ke warung penyetan bawanya dompet kelap-kelip berlian. Hehe

4. Berwarna Netral
Biar nggak susah nyocokin dengan warna baju yang sedang dipakai saya suka dompet yang warnanya netral. Warna netral menurut saya itu bisa hitam, navy, atau bangsanya coklat.

Beberapa aktivitas saya yang terdokumentasi saat membawa dompet kesayangan.

Saat main ke rumah ponakan

Dompetnya dibawa ke kondangan juga pantes

Menghadiri wisudaan teman

Nah, sampai sini sudah peka belum? Kalau mau ngasih kado aku dompet, yaa begitu itu model kesukaanku. Wkwkwkwkwkwkwkwk....




Tuesday, 28 May 2019

Kita Tidak Harus Ikut-ikutan Apa yang Lagi Tren, Kok

Tuesday, May 28, 2019 7 Comments
Sumber gambar : www.freepik.com

Ketika film Avenger: End Game gaungnya riuh banget, saya sempet mikir, "apa cuma aku ya yang nggak tertarik nonton film itu?".  Terbersit pikiran, "Apa aku nggak normal?" :D

Kemudian, saya melihat story instagram pak @alighure, seorang pengusaha jilbab afra dari Bandung, ternyata beliau juga tidak tertarik nonton film tersebut. Merasa bahagia banget, "waaaah....ternyata aku punya temen". Sebenernya nggak punya 'tim tidak menonton avenger' juga nggak apa-apa sih hehe....

Dulu juga, ketika celana kulot lagi hits banget, lihat teman-teman memakainya kok keren yaa... Tapi ya gitu, saya tetep tidak tertarik membelinya. Tetep setia dengan gaya pakaian saya yaitu gamis atau rok biasa.

hehe...

Terus lagi, jilbab antem (anti tembem), semakin kesini semakin banyak model jilbab antem, dan saya nggak bisa ikut-ikutan membelinya. karena memang nggak pantes di wajah. huhu... Disaat semua pada nyari antem, saya cari yang biasa.

Bukan selera mereka buruk dan selera saya lebih bagus, atau selera saya lebih baik dan selera mereka lebih buruk (eh, gimana sih :D). Pokoknya, tidak ada yang salah diantara kami semua. Yang kurang baik adalah yang hanya ikut-ikutan biar ikut keren juga. Yaitu orang yang tidak mempunyai prinsip hidup. Bisanya cuma 'mbebek'. Apalagi sampai dibelain hutang sana-sini biar kelihatan keren karena mengikuti tren. Hmmmm...kasian banget orang tipe gitu.

Teringat dulu waktu saya  kecil, waktu bilang ke bapak, "Bapak, aku pengen tumbas sepatu". Bapakku balik tanya, "Sepatu piye?". kalau saya jawab "Sepatu kayak punya si A", pasti deh bapakku marah. Terus saya nggak dibeliin. Kadang dibeliin tapi sambil diceramahi hehehe... Katanya, "Ojo angger melu tumbas nek koncone tumbas." (Jangan asal ikut-ikutan beli kalau temennya beli barang baru). Jadi bapakku marah bukan karena saya minta beli sepatu, tapi karena saya hanya ngikut-ngikut.

Jadi, kita beli sesuatu itu bukan karena lagi tren, tapi apakah benar memang butuh? Apakah benar kita cocok juga pakai barang yang sedang hits itu? Dan nggak ada salahnya kok tidak ikut tren. Apalagi tren fashion, nggak akan ada habisnya. Tiap waktu tren fashion selalu berubah. Bisa kuwalahan kalau kita selalu mengikuti demi "agar tidak ketinggalan tren".

Saya tuh salut banget dengan Teh Ninih istri Aa Gym, dari zaman dulu banget sampai sekarang, gaya jilbabnya gitu-gitu saja. Padahal model jilbab sudah berganti ratusan ribu kali, Teh Ninih masih istiqomah dengan gaya jilbabnya.

Menjadi orang terasing itu nggak papa kok, beneran, nggak papa 😅 Berbahagialah orang yang terasing. Sabda nabi SAW:


بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ


"Islam datang dalam keadaan yang asing, akan kembali pula dalam keadaan asing, sungguh beruntung orang-orang yang asing."(HR. Muslim)


Disaat malam minggu banyak remaja rame-rame melihat konser musik, tidak apa-apa jika kita memilih pergi ke masjid untuk mendengar kajian.

Disaat tanggal 14 Februari banyak pemuda-pemudia saling memberi coklat tanda kasih sayang katanya, tidak apa-apa kita beli coklat sendiri terus dimakan-makan sendiri, wkwk... Kita hebat telah teguh pendirian tidak ikut merayakan valentine.

Disaat tanggal 1 Januari banyak orang begadang menunggu pesta kembang api menyambut tahun baru katanya, tidak apa-apa kok kita tidur lebih cepat, berselimut hangat. Terus bangun jam 3 dini hari untuk bermunajah padaNya. Sedangkan yang begadang tadi pada mulai tidur, subuhnya telat. Eaaaaa....kasihan banget mereka.

Disaat yang lain selalu merayakan hari ulang tahun mereka, seru-seruan saling mengucapkan "Selamat ulang tahun"...., tiup lilin, kasih kado, tidak apa-apa kok kita nggak mengucapkan ulang tahun, dan tidak apa-apa banget nggak dapat ucapan dan kado di hari tanggal lahir kita.

Hidup itu penuh pilihan, kan? Kita bebas memilih. Asalkan setiap pilihan itu ada dasar kuat. Kita tahu mengapa kita memilih jalan itu. Allah telah membekali manusia berupa akal untuk berpikir, mana yang baik dan mana yang buruk. Mana yang harus diikuti dan mana yang tidak perlu diikuti.

Dan jangan lupa untuk selalu berdoa:


اللهُمَّ أَرِنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا التِبَاعَةَ وَأَرِنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ


"Ya Allah tunjukilah kami kebenaran dan berikan kami jalan untuk mengikutinya. Dan tunjukilah kami keburukan dan berikan kami jalan untuk menjauhinya. Dengan rahmatMu wahai yang Maha Pengasih Penyayang."












Friday, 17 May 2019

Jangan Putus Asa, Mungkin Kamu Seperti Pohon Mojuk

Friday, May 17, 2019 4 Comments
Sumber gambar : www.freepik.com

Ada kalimat menggelitik dari Bulek online-ku, melalui akun instagramnya @sundarihana , bulek hana sedang curhat tentang perasaannya yang sedang LDM (Long Distance Marriage). Bulek Hana bilang, "Terkadang yang membuat tidak sehat itu bukan karena kurangnya olahraga atau makan sembarangan, tetapi karena terlalu lama nge-scroll instagram".

Kalau dipikir-pikir, bener juga kayaknya.

Kita saat ini hidup di zaman yang seolah tanpa sekat. Kehidupan seseorang yang jauh disana bisa dengan mudah kita intip lewat jendela dunia maya. Melihat deretan postingan netizen seperti sedang mendatangi pameran. Ya memang mereka semua sedang pamer :D Ada yang pamer makanan, tempat wisata, kendaraan, dan prestasi. Bagi orang yang mudah baper, maka akan membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain. Dan ujung-ujungnya bisa menimbulkan penyakit hati: iri, dengki, dan stress.

Sebenarnya kalau hati kita bersih, melihat postingan netizen itu bisa menjadi sumber inspirasi. Melihat postingan netizen yang sedang travelling, setidaknya kita bisa tahu, "oooh ada tempat wisata menarik toh di daerah sana". Melihat postingan netizen soal makanan unik, "Eh, makanan apa itu? Gimana ya cara membuatnya?", Lalu kepo-kepo cari resepnya. Melihat postingan rumah netizen yang lucu, "Bagus juga ya kalau warna dindingnya begitu, terus dipadukan dengan sofa desain seperti itu". Banyak juga yang memamerkan sederet prestasi dan kesuksesannya. Soal riya' atau tidak, itu urusan dia dengan Tuhannya.

Bicara soal kesuksesan dan prestasi, ada berbagai macam cerita kesuksesan orang. Ada yang baru melangkah sudah sukses, ada yang butuh bertahun-tahun sampai jatuh bangun tertatih-tatih baru mengecap kesuksesan. Kamu termasuk yang mana? Atau bahkan sampai saat ini pun kamu belum sukses? Ya sukses apapun itu. Target sukses yang saya maksud itu luas. Masing-masing orang punya target sukses sendiri-sendiri tentunya. Ada yang menargetkan sukses jualannya. Ada yang menargetkan sukses nulis bukunya hingga best seller. Ada yang menargetkan lihai bicaranya di depan umum. Banyak.

Sudah berapa tahun kamu berusaha menjemput suksesmu? Puluhan tahun kah? Kalau sampai saat ini pun kamu belum sukses, jangan menyerah. Bisa jadi kamu seperti pohon mojuk. Tahu tidak pohon mojuk? Pohon mojuk itu sejenis pohon bambu yang banyak tumbuh di Cina. Pohon ini termasuk pohon terbesar yang ada di bumi. Tetapi pertumbuhan awalnya sangat lambat. Selama lima tahun pertama dia hanya berbentuk tunas. Kerdil. Tak ada apa-apanya. Tapi bukan berarti selama 5 tahun itu dia nggak ngapa-ngapain. Dia sebenarnya menguatkan akarnya agar bisa menopang dengan kuat nantinya. Karena jika sudah saatnya tiba, yaitu 5 tahun kemudian, besarnya tak tanggung-tanggung. Buesar sekali, hingga 25 meter. Ngeri banget.

Pohon Mojuk
Sumber gambar : www.kaskud.co.id
Jadi, kamu yang sampai saat ini masih tertatih-tatih menjemput kesuksesan, jangan menyerah ya. Mungkin kamu seperti pohon mojuk. Lakukan saja terus apa yang sekiranya dapat menyokong kesuksesanmu. Semua yang profesional juga berawal dari amatiran. Hanya saja, proses menjadi amatirnya yang berbeda-beda fasenya. Ada yang panjang, ada yang pendek.

Dan jangan sekali-kali membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Karena setiap orang mempunyai takdirnya masing-masing. Dan yang menentukan takdir hanya Allah. Bandingkan saja dirimu sendiri saat ini dengan dirimu sendiri di masa lalu. Apakah mengalami kemajuan? Karena terdapat kaidah bahwa orang yang beruntung adalah orang yang hari ini lebih baik dari hari kemarin. 

Semangat!




Wednesday, 15 May 2019

4 Hal yang Harus Kamu Pertimbangkan Saat Follow Akun di Instagram

Wednesday, May 15, 2019 2 Comments

Percaya atau tidak, lingkungan dan teman-teman adalah salah dua faktor yang sangat mempengaruhi akhlak kita. Kalau lingkungan dan teman-teman kita kurang baik, bisa jadi akan mengubah diri kita menjadi kurang baik juga. Kecuali diri kita sangat teguh pendirian dan mempunyai visi berdakwah, maka itu adalah kesempatan mengubah lingkungan dan teman-teman yang kurang baik menjadi lebih baik. Tapi kalau tidak kuat, mending mundur dan cari lingkungan yang lebih baik saja.

Begitu juga kehidupan di dunia maya, hampir sama dengan dunia nyata. Siapa yang kita follow di instagram besar kemungkinan akan mempengaruhi kehidupan kita. Setidaknya ada 4 hal yang harus kamu perhatikan saat memutuskan follow akun instagram:

1. Kebermanfaatan Captionnya
Penting banget memperhatikan caption yang ditulis oleh netizen. kalau captionnya mengandung ujaran kebencian, ghibah, keluhan, tidak usah lama-lama ambil keputusan, langsung unfoll saja ya. Kamu perlu energi positif dari sekitarmu, kalau sekitarmu terus saja mengeluh, hidup kamu akan semakin terasa sumpek. Hidup sudah sumpek jangan ditambah dengan kesumpekan lain.

Apalagi akun gosip, berita yang belum tentu kebenarannya jangan ikut-ikut membahasnya apalagi membagikannya ulang. Hati-hati pahalamu hilang sia-sia.

2. Sesuai hobimu
Jika kamu hobi menulis, maka wajib banget follow akun-akun yang berkaitan dengan kepenulisan. Dari situ kamu akan mendapat wawasan tentang kepenulisan dan info lomba menulis. Sehingga bakatmu akan semakin terasah. Begitu juga dengan hobi yang lain.  

3. Berita
Bermain medsos selain untuk bersosialisasi, juga untuk mendapatkan info terupdate. Jangan sampai kamu kudet tentang info-info terkini gara-gara yang kamu follow kurang bermanfaat. Tapi kamu harus teliti ya mana akun berita terpercaya dan mana yang hoax. Lebih baik follow akun berita yang sudah terpercaya kebenarannya seperti jawapos.

4. Aktivis atau influencer positif
Penting banget lho follow para aktivis itu. Mulai dari aktivis yang bergerak di bidang sosial, lingkungan, kesehatan, sampai politik. Mereka biasanya mempunyai gagasan-gagasan atau gerakan yang dibagikan di postingannya. Buat kamu-kamu yang peduli tapi bukan tipe penggerak, harus banget follow para penggerak tersebut. Gagasan-gagasan positif dari mereka bisa kamu dukung. Dengan begitu, kamu juga telah berkontribusi dalam kebaikan.

Dan jangan asal follow influencer. Pilih influencer yang menebar kebaikan, yang tidak hanya pamer fashion dan kekayaan. 

Kalau kalian follow aku karena apa ya?  semoga dapat manfaatnya ya 

Friday, 26 April 2019

#AyoHijrah Bersama Bank Muamalat Indonesia Agar Hidup Lebih Berkah

Friday, April 26, 2019 2 Comments

Perubahan demi perubahan sudah selayaknya melekat pada diri manusia. Setiap saat, setiap waktu. Tetapi hanya perubahan yang menuju kebaikanlah yang sepatutnya terjadi. Karena termasuk orang yang beruntung jika hari ini lebih baik dari hari kemarin, termasuk orang yang merugi jika hari ini sama dengan hari kemarin, dan termasuk orang yang celaka jika hari ini lebih buruk dari hari kemarin.

Agar pribadi ini senantiasa menjadi orang yang baik dari waktu ke waktu maka diperlukan suatu introspeksi. "Sudah benarkah apa yang telah saya lakukan? Sukakah Allah jika saya berbuat demikian?"

Jika menemukan suatu yang tidak tepat pada diri kita, maka tak ada alasan menunda untuk segera #AyoHijrah. Karena kematian juga tak bisa ditunda jika sudah saatnya.

Hijrah bukanlah sesuatu yang baru dalam Islam. Tetapi gaungnya memang sangat riuh akhir-akhir ini, Kawan. Istilah hijrah sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Yakni ketika Nabi berpindah dari Mekkah menuju Madinah. Itulah peristiwa hijrah sebenarnya. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, Nabi SAW bersabda:

"Maka barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan RasulNya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan RasulNya."

Ya, hijrah itu hanya karena Allah dan untuk Allah. Nabi berpindah dari Mekkah menuju Madinah tak lain dan tak bukan adalah karena mematuhi perintah Allah SWT.

Hijrah dalam konteks Islam yang masih berlaku sampai sekarang dan seterusnya adalah meninggalkan segala apa yang dibenci Allah menuju apa yang dicintai Allah. Mulai dari ibadah, penampilan, akhlak, sikap, gaya hidup, dan kebiasaan sehari-hari harus ditinggalkan jika sebelumnya adalah hal-hal yang dibenci Allah. Hijrah itu harus dimulai, dijalankan, kemudian disempurnakan. Maka hijrah tidak hanya dalam hal ibadah, tetapi juga tentang keuangan kita. Sudah benarkah cara kita mengelola keuangan? Sukakah Allah jika kita menyimpan uang di bank yang disana?

Saat niat hijrah telah tersemat, maka saatnya menjalakan. Pada tahun 2018 akhirnya saya memutuskan untuk membuka rekening di Bank Muamalat Indonesia. Ada perasaan luar biasa ingin berhijrah dari bank konvensional menuju bank syariah, dan juga ghirah membangkitkan perekonomian Islam. Kalau tidak kita sebagai umat Islam yang menghidupkan Bank Syariat, lalu siapa lagi? #AyoHijrah

Hijrah memang selalu ada saja godaannya. Syaitan selalu mempunyai celah untuk membatalkan niat baik manusia. Tetapi karena tekad saya sudah bulat, saya berani untuk lebih baik, saya terus melaju ke Bank Muamalat Indonesia yang terletak di Jalan Darmo Surabaya. Karena hijrah itu indah, saat kita berlomba-lomba untuk mendapat ridloNya. Saya terus membantah bisikan-bisikan syaitan itu dengan, "kalau tidak sekarang, terus kapan lagi?" #AyoHijrah harus segera dimulai sebelum syaitan terus mengelabuhi.

Ketika memasuki Kantor Bank Muamalat, saya disambut Bapak Satpam yang sangat ramah. Tersenyum dan mengucapkan salam. Nuansa ungu khas Bank Muamalat menyambut setiap orang yang datang. Kemudian saya menunggu di kursi antrian yang nyaman untuk menunggu panggilan. Sampailah pada giliran saya,  CS menyambut dengan hangat.

"Assalamu'alikum", Salam Mas CS dengan gaya khas Muamalat.

"Selamat pagi, Bu. Ada yang bisa dibantu?"

"Saya mau membuat rekening, yang biasa dan untuk haji. Dua sekaligus bisa?", tanya saya.

Iya, saya langsung membuka dua rekening sekaligus. Sebelum mengisi formulir, CS menjelaskan dengan sangat detail apa itu Bank Muamalat, bagaimana akadnya, dan lain-lain. Penjelasan akad inilah yang sangat penting. Karena halal haramnya muamalah juga sangat ditentukan pada akadnya. Dan tentu saja akad yang dipakai bank Muamalat adalah akad yang sesuai syariat.

Ada dua jenis akad, yaitu mudhorobah dan wadiah. Jika mudhorobah maka nasabah bisa dibilang sebagai investor, berarti dana yang disetorkan ke Bank Muamalat akan dikelola oleh Bank, dan nasabah nantinya akan mendapat nisbah (bagi hasil keuntungan). Tetapi akad wadiah berbeda. Untuk akad wadiah nasabah hanya menitipkan uangnya. Dana yang dititipkan boleh dikelola oleh bank dan jika sewaktu-waktu diambil oleh nasabah maka bank harus siap mengembalikannya. Jika pada akad mudhorobah nasabah mendapat hasil bagi keuntungan, untuk akad wadiah tidak. Tetapi pihak bank bisa memberikan bonus kepada nasabah secara suka-suka. Dan itu diperbolehkan oleh Islam.

Dengan menabung di Bank Muamalat artinya kita juga telah mendukung perekonomian umat. Karena Bank Muamalat pasti hanya mendanai usaha-usaha yang halal dan tidak bertentangan dengan syariat Islam. Bukankah hidup akan jadi lebih tenang kalau sesuai syariat? Hidup indah kalau mencari berkah, tidak keuntungan duniawi semata.

Meskipun tabungan kita di Bank Muamalat tidak ada bunga ribawinya, tetapi kita tetap mendapat keuntungan, yaitu dari hasil bagi keuntungan. Dan pastinya ini keuntungan dari usaha-usaha halal yang telah didukung Bank Muamalat. Meskipun uang saya tidak banyak, tetapi Allah akan membalas setiap kebaikan tanpa mendzalimi hambaNya. Sekecil apapun uang yang kita kontribusikan untuk perekonomian umat Islam tetap akan bermanfaat.

Bank Muamalat merupakan Bank syariat pertama di Indonesia, dan juga telah mendapat BPS-BPIH (Bank Penerima Setoran Biaya Penyelenggara Ibadah Haji) dari Kementerian Agama Indonesia. Oleh karena itu saya tidak ragu sama sekali untuk membuka tabungan haji di Bank Muamalat. Meskipun lagi-lagi uang yang ditabungkan tidak seberapa, tetapi niat lebih baik daripada amal. Entah sampai pada tahun berapa tabungan haji saya akan mencukupi untuk mendapat nomor antrian keberangkatan. Sedikit-sedikit lama-lama akan menjadi bukit. Semakin ditunda, maka akan semakin lama berangkat. "Ya Allah saksikanlah ini adalah ikhtiar saya".

Sungguh terlalu jika tidak terbersit sedikitpun keinginan dalam hati umat Islam untuk pergi haji. Pasti semua orang Islam mempunyai keinginan melaksanakan ibadah haji. Lalu bagaimana aksinya? apakah sudah berusaha? Jika ajal menjemput lebih dulu semoga buku rekening Bank Muamalat ini menjadi saksi di akhirat nanti bahwa saya sudah sangat berniat ingin berkunjung ke baitullah. Hijrah itu tenang, saat kita tahu perjalanan ke tanah suci telah terencana sejak awal.

"Barang saiapa yang berniat untuk berbuat kebaikan tetapi tidak jadi mengerjakannya, maka akan dituliskan untuknya 1 kebaikan (pahala) yang sempurna, jika dia benar-benar mengerjakannya maka Allah akan menuliskan untuknya 10 hingga 700 kebaikan bahkan boleh lebih banyak lagi. Barang siapa berniat untuk berbuaat kejahatan tetapi tidak jadi mengerjakannya, makan akan dituliskan untuknya 1 kebaikan yang sempurna, jika dia benar-benar mengerjakannya, maka Allah akan menuliskan 1 keburukan (dosa) untuknya." (H.R. Muslim)

Selain mendapatkan buku tabungan dan kartu ATM, kita juga dapat menikmati fasilitas Bank Muamalat Mobile. Didalamnya terdapat fitur Mobile Banking, Internet Banking, Info lokasi ATM dan Kantor cabang, serta fitur-fitur Islam seperti petunjuk arah kiblat dan jadwal sholat.



Teman-teman kapan nyusul saya? Caranya sangat mudah. Langsung saja datang ke Bank Muamalat, cukup dengan membawa kartu identitas seperti KTP/SIM/PASPOR, dan setoran di awal adalah Rp. 100.000. Bagi yang membuka rekening di luar daerah seperti saya, maka ditambah dengan membawa surat keterangan, misal surat keterangan bekerja di Surabaya.


Saat ini produk Bank Muamalat disematkan nama hijrah, seperti Tabungan iB Hijrah, Tabungan iB Hijrah Haji dan Umroh, Tabungan iB Hijrah Rencana, Tabungan iB Hijrah Prima, Tabungan iB Hijrah Prima, Tabungan iB Hijrah Prima Berhadiah, Deposito iB Hijrah, dan Giro iB Hijrah.

Biar lebih akrab mari silaturahmi dengan Bank Muamalat di alamat berikut:



Friday, 19 April 2019

Wednesday, 10 April 2019

Mengapa Saya Harus Nge-Blog?

Wednesday, April 10, 2019 0 Comments

Saya sudah mulai nge-blog sejak tahun 2013. Ada sekitar 130-an artikel yang telah saya terbitkan melalui blog saya sendiri. Ada yang pendek, sedang, dan panjang. Temanya pun beragam. Karena dari awal nge-blog saya tidak menentukan tema spesifik untuk blog saya. Apapun yang ingin saya tulis, saya tulis saja.

Wednesday, 20 March 2019

Kiat-Kiat Istiqomah Melayani Umat

Wednesday, March 20, 2019 2 Comments

Berbahagialah kita jika telah dimanfaatkan teman. Meskipun teman tersebut mendatangi kita saat butuh saja. Berbanggalah. Disaat seperti itu artinya hanya kamu yang diingat. Betapa berartinya diri kita. Karena dianggap hanya kita yang akan mampu menolongnya. Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya, begitulah sabda Nabi SAW. Dari hadist tersebut maka kita tahu bahwa setiap muslim diperintahkan untuk memberikan manfaat bagi sesama.

Agar bisa bermanfaat bagi sesama maka harus mempunyai kemampuan. Bisa menyetir sepeda motor, bermanfaat mengantar ibu ke pasar. Bisa menjahit, bermanfaat menambalkan baju tetangga yang rusak. Semakin banyak kemampuan yang kita miliki maka akan semakin besar peluang kebermanfaatan kehadiran kita bagi orang lain. Apalah artinya pandai matematika di kelas tetapi tidak bisa membantu menghitungkan zakat keluarga. Sejatinya ilmu dan kemampuan itu untuk diamalkan, tidak untuk sekedar dihafal. Apalah artinya jabatan tinggi tetapi tidak bisa memperjuangkan Islam dan Umat Islam di tengah hiruk pikuknya bombardir kaum kafir yang menjajah. Sejatinya kekuasaan itu wajib dipakai untuk kepentingan agama, bukan malah memakai agama islam hanya untuk kepentingan kekuasaan.

Menjadi pelayan khususnya melayani umat sungguh besar pahala yang akan didapat. Pelayan bukan sekedar sebuah profesi rendahan. Seorang pegawai pemerintahan, Presiden, Gubernur, Bupati, Walikota, pada hakikatnya juga seorang pelayan. Yakni melayani warga yang dipimpinnya. Teringatlah kita pada salah seorang khulafaur rasyidin yang terkenal dengan 'blusukannya'. Ya, blusukan sebenarnya sudah lama dipraktekkan pada zaman khulafaur rasyidin. Yaitu Umar bin Kahatab. Pada malam hari tanpa diketahui oleh khalayak ramai Umar Bin Khatab mulai blusukan melihat kondisi warganya. Pernah saat blusukan, Umar melihat seorang anak yang menangis di samping ibunya yang sedang memasak. Lama sekali masakan tak kunjung matang, ternyata  yang dimasak ibu itu hanyalah batu. Ibu tersebut berpura-pura memasak demi menghibur anaknya yang kelaparan. Melihat kejadian itu, Khalifah Umar sangat merasa bersalah kemudian kembali ke Madinah dan memanggul gandum sendiri untuk dibawakan kepada ibu tersebut.

Jiwa melayani umat harus dipupuk sejak dini. Oleh karena itu orang tua hendaknya melatih putra-putrinya untuk suka membantu, melayani, dan sebaliknya tidak boleh terlalu dimanjakan. Karena keluarga adalah bentuk terkecil dari suatu kehidupan bermasyarakat. Maka penting sekali untuk melatih anak-anak melayani anggota keluarga sebelum nanti terjun ke masyarakat untuk melayani umat. Contoh kecilnya, anak bisa menyemirkan sepatu ayah yang akan berangkat kerja. Membelikan bumbu dapur ibu ke pasar. Jika anak sudah terbiasa melayani di rumah maka akan ringan melayani umat nantinya. Dan sebaiknya orang tua menanamkan nilai pada anak bahwa mau jadi apapun nantinya, yang penting bisa bermanfaat untuk sesama. Menuntut ilmu di sekolah juga harusnya diniatkan untuk beribadah kepada Allah dan ilmunya bermanfaat untuk agama dan sesama.

Kisah Khalifah Umar Bin Khatab di atas cukup memberi pukulan kita yang belum tergerak untuk melayani umat. Seorang khalifah saja tidak malu untuk memanggul gandum sendiri, justru itu sebagai penebus rasa bersalahnya  karena melalaikan warganya yang kekurangan bahan makanan. Kita sendiri sudah sejauh dan seberapa banyak melayani umat? Sejatinya akan selalu kurang karena harusnya tiada batas, istiqomah tanpa tapi tanpa nanti.

Agar tetap istiqomah melayani umat adalah yang pertama tanamkan pada diri sendiri bahwa menjadi pelayanan umat sesungguhnya menolong agama Allah SWT. Tidak perlu mengharapkan balasan kebaikan dari manusia karena balasan yang paling baik adalah surga dari Allah nantinya. Kita menolong dan melayani umat bukan agar ditolong juga nantinya seperti kata kebanyakan orang, tetapi kita melayani umat karena Allah suka. Titik. Sederhana saja.

Kedua, tingkatkan kualitas diri agar kebermanfaatan kita semakin banyak. Meningkatkan kualitas kemampuan kita akan semakin memperbagus pelayanan kita. Atau meningkatkan pasitas diri kita akan semakin memperbanyak peluang kebermanfaatannya. Jika pada awalnya hanya menguasai bidang komputer, alangkah baiknya menambah kemampuan di bidang seni, yang tentunya seni tersebut juga bisa dimanfaatkan untuk dakwah Islam.

Ketiga, berupaya menambah kekayaan harta. Tidak bisa dipungkiri bahwa dakwah Islam juga memerlukan uang. Dan memperbanyak uang yang ertujuan untuk dakwah Islam sungguhlah mulia. Uang memang tidak dibawa mati. Tetapi dengan uang kita bisa beramal jariyah yang amalnya dibawa mati.

Keempat, bila tidak mempunyai banyak harta maka sisihkan waktu dan tenaga untuk masyarakat. Tenaga sangat diperlukan untuk keberlangusngan dakwah Isalam. Dalam pembagian zakat saja misalnya, dibutuhkan orang yang mau mengatur dan mendistribusikannya.

Semoga kita senantiasa diberi rahmat Allah berupa kesehatan, kesempatan, dan harta yang bisa bermanfaat untuk umat.










Thursday, 23 August 2018

Friday, 3 February 2017

Mengapa Kita Dipertemukan

Friday, February 03, 2017 5 Comments



Dalam menjalani hidup ini, sudah pasti kita akan dipertemukan dengan banyak orang. Sebenarnya, ada banyak pula alas an mengapa Allah mempertemukan. Oleh karena itu, aka nada banyak hikmah dari sebuah pertemuan. Aku bertemu kamu. Aku bertemu dia. Aku bertemu kalian. Aku bertemu mereka. Semuanya sudah ada dalam skenarioNya.

Tuesday, 24 January 2017

Padi dan Rumput

Tuesday, January 24, 2017 0 Comments


Bila kita menanam padi, maka rumput akan tumbuh.
Tapi bila kita menanam rumput, tanaman padi belum tentu bisa tumbuh.

Bila kita cinta Allah, maka cinta makhlukNya pun akan tumbuh.
Tapi bila kita cinta manusia, cinta Allah belum tentu akan kita dapat.

Monday, 5 December 2016

Gelar Terbaik

Monday, December 05, 2016 0 Comments



Malam itu aku berbincang dengan seorang teman. Guru adalah Profesinya. Bukan guru agama, tapi kimia. Dia bercerita lingkungan tempat ia bekerja. Katanya, ternyata banyak orang yang masih belum lengkap sholatnya. Padahal yang wajib hanya lima. Jadi jangan harap sunnahnya.

“Padahal aku ingin berada di lingkungan yang baik, yang bisa membuatku lebih baik, Mbak”, katanya. “sebenarnya aku manusia biasa. Masih kurang banyak ilmu, disana jadi dianggap sudah luar biasa”, tambah dia.
“Mungkin Allah menempatkan sampean disana untuk berdakwah, untuk mengajak mereka sholat”, jawabku sambil tersenyum.
“Saya bukan siapa-siapa, Mbak.”, dia merendah.
“Sampean adalah ciptaan Allah yang mempunyai tugas amar ma’ruf nahi munkar”.

Friday, 2 December 2016

Perempuan Islam itu Ya Seorang Muslimah

Friday, December 02, 2016 0 Comments


perempuan islam itu ya muslimah
Saya mempunyai tiga pertanyaan. Mudah kok. Tidak usah deg-degan untuk menjawabnya. Santai saja kayak di pantaaaaai. (rasakan hembusan angin menrpa wajah dan dengarkan deburan ombak yang menderu)

Siap?

Ini soal pertama:
Kalau saya menyebut perempuan, bagaimana kalian menggambarkannya?

Follow Instagramku